loading...
loading...
![]() |
| Rakyat Papua menuntut Demokrasi, Foto: Tempo |
Saat ini Negara Indonesia sedang merilis sejarah busuk, negara calo, negara penghamba korporasi, sebuah negara yang tanpa harga diri dan kedaulatan sebagai bangsa yang bermartabat. Pelegalan Pepera 1969 sebagai senjata menutupi keserakahan secara sporadis untuk mendapat pengakuan dari negara-negara liberal brengsek namun jelas terlihat sebagai kelicikan calo, menginjak bangsa Papua bahwa negara sah menelantarkan,membuat terbelakang, dan membunuhi rakyat Papua dengan dalih separatis. Alasan demi persatuan dan keutuhan bangsa adalah alasan jahat dalam kenyataan, faktanya banyak pemuda Papua dibinatangkan bahkan di tingkat kampus, yang konon tempatnya para intelektual dan terdidik. Persatuan tanpa visi yang jelas, penggerogotan dan penindasan selama berpuluh- puluh tahun, belum lagi aksi militerisme yang dilakukan oleh militer Indonesia yang sadis yang menampakkan goresan-goresan luka dan kematian. Seperti suami istri kalau terjadi kekerasan siapa yang betah, jika tindak kuasa larut dalam kekerasan. Bahkan lebih rendah seperti hubungan majikan dan budak karena sedikitpun tidak ada pernyataan ikatan bersama bahkan dalam ranah demokrasi satu orang satu suara. Hasil dari kongkalikong negara-negara penjajah dan demi eksploitasi korporat atas kekayaan dan darah bangsa Papua. Bersatu kok menindas !? Ini membunuh.
Ketakutan atas Papua merdeka menjadi dalil perpecahan keutuhan, dan menjalar ke daerah-daerah lain dan hal ini sebagai upaya negara lain memecah belah sesuai keinginan mereka adalah bukti kerendahan berpikir sekaligus kerendahan martabat. Tidak bisa membahagiakan bangsa Papua namun malah mengkhianatinya dengan menindas mereka. Tak bisa dipungkiri rakyat Indonesia juga banyak yang merasa menderita dengan kemiskinan yang dibuat oleh pemerintahnya untuk tuan korporat, , kedzaliman dalam memerintah atas nama pemerintahan negara yang sah. Indonesia dengan Papua tak ubahnya dengan Israel-Palestina, termasuk perjuangan rakyatnya. Disatu sisi meneriakkan kemerdekaan bangsa Palestina namun disisi lain meneriaki bangsa Papua sebagai separatis alias pemberontak, padahal secara konstitusi sudah diatur tapi dikhianati, bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa, termasuk bangsa Papua. Apa kita sebagai negara latah, pernah dijajah kok menjajah, apa bedanya dengan mereka negara kolonial, malu sama sejarah.
Tidak sedikit rakyat bahkan para buruh menyadari penuhnya penindasan dan penghisapan atas Papua, bahkan tidak terima atas hal tersebut, karena tidak manusiawi dan lebih membela bangsa Papua untuk menentukan kesejatiannya termasuk dalam kemandirian berpendapat dan bersikap. Bahkan untuk hidup damai di tanahnya tanpa penghisapan,penindasan dan penghinaan dari bangsa manapun yang keji. Banyak kegagalan Negara Indonesia atas Papua termasuk operasi-operasi militer/pembunuhan yang menyadarkan rakyat Indonesia sendiri sehingga mendukung perlawanan Bangsa Papua untuk menentukan nasibnya sendiri bahkan untuk merdeka daripada semakin terpuruk dalam penindasan dan maut. Bangsa Papua dapat berdiri sebagai bangsa yang bermartabat, merdeka, berdaulat dan berbudaya (satu tungku tiga batu, budaya kebersamaan dan toleransi tinggi, karya bangsa Papua), Apapun dalihnya rakyat Indonesia tidak punya hak atas Papua selain selain sejajar dalam kemanusiaan, karena Papua itu Papua, bangsa yang merdeka !
loading...

